Identitas Budaya, Desa sebagai Pusat Tradisi
Ketika pariwisata berkembang pesat, desa sering kali dipandang hanya sebagai objek komersial—tempat singgah wisatawan, lokasi foto, atau sekadar destinasi liburan. Padahal, desa memiliki peran jauh lebih besar: ia adalah pusat tradisi, ruang hidup di mana budaya tumbuh, diwariskan, dan dijaga.
Budaya tidak lahir di hotel mewah atau pusat perbelanjaan. Ia tumbuh dari keseharian masyarakat desa: dari cara mereka menanam padi, menyanyikan lagu rakyat, hingga menyambut tamu dengan adat yang penuh makna.
- Ritual dan upacara. Desa menjadi panggung utama tradisi yang diwariskan turun-temurun.
- Seni dan kerajinan. Produk lokal bukan sekadar souvenir, melainkan simbol identitas.
- Bahasa dan cerita rakyat. Desa menjaga narasi yang sering hilang di kota.
Desa sebagai Penjaga Tradisi
Ketika pariwisata masuk, ada risiko budaya desa hanya dijadikan tontonan. Tari tradisional bisa kehilangan makna jika hanya dipentaskan demi tiket masuk. Rumah adat bisa berubah jadi dekorasi tanpa ruh. Inilah bahaya komersialisasi: budaya kehilangan konteks, desa kehilangan jati diri.
Jalan Tengah: Desa Cerdas dan Berkelanjutan
Penguatan identitas budaya berarti menempatkan masyarakat desa sebagai aktor utama, bukan sekadar penyedia jasa.
- Partisipasi warga. Tradisi dijalankan oleh masyarakat, bukan dipoles untuk turis semata.
- Teknologi sebagai alat bantu. Digitalisasi promosi dan reservasi mendukung, tapi tidak menggantikan nilai budaya.
- Wisata edukatif. Wisatawan diajak memahami makna tradisi, bukan hanya menikmatinya secara dangkal.
Desa yang cerdas bukan hanya desa yang melek teknologi, tetapi desa yang percaya diri dengan identitas budayanya. Ia tidak menjual tradisi sebagai komoditas murah, melainkan membagikannya sebagai warisan berharga. Dengan begitu, desa tetap menjadi pusat tradisi—tempat di mana budaya hidup, bukan sekadar objek komersial.







Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!